SEJARAH HANDPHONE
Puluhan tahun yang lalu bisa bercakap-cakap dengan orang lain diseberang lautan adalah sebuah hal yang menakjubkan. Sekarang, dengan peralatan yang disebut telepon maka berbicara dengan orang lain yang jaraknya sangat jauh bahkan di luar negeri sekalipun bisa dilakukan.
Dasar-dasar teknologi telepon yang pertama sekali diperkenalkan oleh Alexsander Graham Bell (1847-1922). Walaupun penemuan tersebut masih controversial karena ada sebagian pihak yang mengklaim Antonio Mecci sebagai penemu aslinya. Terlepas dari kontroversi itu, peneluan Bell adalah sebuah lompatan besar dalam sejarah manusia.
Awalnya sebuah telepon membutuhkan kabel sebagai media transmisinya. Kerena tidak fliksibel maka dikembangkanlah teknologi wireless (nirkabel) agar lelepon bisa dibawa kemana-mana. Maka berkembanglah telepon dengan hanset yang bisa dibawa-bawa dalam radius tertentu. Namun teknologinya masih berbasis PSTN (Public Switched Telephone Network).
Manusia memang tidak pernah puas. Sampai akhirnya era 1980-an ditemukan teknologi mobile phone atau cellular phone. Teknoligi ini memungkinkan sebuah handset dibawa kemana aja selama masih bisa dijangakau signal dari BTS (Base Transeiver Station) yang disetiap daerah.
Perkembangan seluler generasi pertama (1G:first generation ) muncul pada era 1980-an. Teknologi yang digunakan masih analog. Contohnya NMT (Advanced Mobile phone System), Hicap, CDPD, Mobitex DataTac.
Di Indonesia sendiri sempat muncul operator seluler berbasis teknologi AMPS pada era 1990-an. Namun akhirnya operator-operator tersebut gulung tikar karena kualitasnya kurang bersaing dengan teknologi GSM yang mulai hadir sekitar 1995.
Generasi kedua (2G: second generation) hadir dengan memanfaatkan signal digital. Teknologi 2G menggunakan dua basis multiplexing yaitu TDMA (Time division Multiple acces) dan CDMA (code division multiple acces). Contoh TDMA adalah GSM, IDEN, D-AMPS dan PDC. Contoh CDMA adalah CDMA-One dan CDMA1X.
Untuk GSM berkembang layanan data mergerak (mobile data service). Gunanya untuk mentransfer data dari satu titik ke titik yang lain. Contohnya adalah teknologi GPRS (General Packet Radio Services) yang memungkinkan seseorang mengirim gambar dan suara MMS (Multimedia Services) atau mengakses situs WAP (Wireless Aplication Protocol). Teknologi GPRS ini hamper menuju ke generasi ke-3 (3G) sehingga sering disebut 2.5G.
Karena kecepatan transfer data (data rate) yang dirasakan masih kurang, maka berkembanglah teknologi EDGE (Enhantion Data Rates for GSM Evolution). Secara teori EDGE mampu 236.8 kbps. Dengan demikian EDGE disebut juga generasi 2.75 atau 2.75G karena berada diantara 2.5G dan 3G.
Generasi ke-3 (3G). sekarang Indonesia telah bersiap-siap menggelar teknologi seluler generasi ke-3 (3G: thirt generation). Operator seluler telah menguji coba 3G sejak tahun lalu. Menurut rencana awalnya, semester kedua 2006 ini teknologi 3G sudah mulai dipasarkan.
Teknologi 3g didapatkan dari 2 buah jalur teknologi 2G yaitu GSM (TDMA) dan CDMA. GSM berevolusi menjadi UMTS sedangkan CDMA menjadi W-CDMA(Wedeband code division multiple acsess). Sebenarnya apa yang menarik dari 3G?? Beberapa diantaranya adalah mampu melayani video phone, video streaming, email dan mobile TV. Hal ini dimungkinkan karena kecepatan transfer data bisa mencapai 1 Mbps (Mega Bits pe Second).
Bayangkan kita bertelfon sambil melihat wajah lawan bicara. Melepas rindu antar pasangan juga menjadi lebih romantis karena bisa melihat langsung wajah sang kekasih. Setelah puas melepas kangen, kita bisa menonton TV. Aksi pemain sepak bola. Aksi pemain sepak bola Liga Inggris bisa kita saksikan langsung dari ponsel. Dunia serasa dalam genggaman. Begitulah yang akan kita rasakan di 3G sudah hadir ditengah-tengah kita.
Namun semua itu masih sebatas mimpi. Sampai saat ini 3G belum bisa kita rasakan karena masih dalam tahap persiapan. Walaupun sudah ada operator yang melaunching layanan ini namun belum secara resmi bisa kita nikmati.
Adapun kendala yang paling terasa pada 3G adalah mahalnya harga handset. Handset 3G bisasanya memiliki dua kamera (dual kamera) sehingga harganya menjadi lebih mahal. Paling tidak saat ini harganya di atas 3 juta. Hal ini tentunya menyilitkan kalangan menengah ke bawah untuk memilikinya.
Bakal tidak mudah kebiasaan bertelepon juga akan mengalami perubahan jika kita berlangganan 3G. Kalau biasanya kita meletakkan handset ke telinga, maka dengan 3G kita tidak perlu melakukannya. Cukup arahkan handset ke wajah karena kamera depan (front camera) akan menangkap gambar wajah kita untuk ditampilkan di layar ponsel lawan bicara. Begitu juga sebaliknya sehingga layanan video phone bisa dinikmati.
Namun 3G tidak bakal selancar yang kita bayangkan. Masih ada beberapa kendala yang bakal ditemui jika layanan ini digelar di Indonesia.
Pertama, harga handset yang relative mahal dan belum terjangkau semua kalangan. Hal ini membuat penetrasi ponsel 3G menjadi rendah. Sehingga layanan video coll akan sulit dilaksanakan. Kalau ponsel kit asudah mendukung 3G dengan dual camera, sementara lawan bicara kita ponselnya masih kuno (tanpa kamera) maka layanan video call menjadi sia-sia. Dengan demikian kita harus memilah-milih akan menghubungi siapa untuk memanfaatkan 3G.
Kedua, cukup layanan yang relative masih sempit. Tidak semua BTS mampu melayani 3G. Saat ini masih beberapa kota saja yang bisa memenuhi kebutuhan pelanggan. Walaupun operator akan terus mengupayakan pengembangan cakupan. Dengan coverage yang terbatas, maka pelanggan masih akan berpikir-pikir memanfaatkan 3G.
Ketiga, layanan 3G masih tumpang tindih dengan teknologi lain. Untuk akses internet EDGE masih mampi melayaninya. Begitu juga dengan GPRS. Namun kedua teknologi ini belum dimaksimalkan. Sama seperti layanan push email yang juga masih belum diekspresi secara maksimal.
Begitupun, kita patut menantikan kehadiran 3G sebagai generasi terbaru dari teknologi seluluer yang belum kita rasakan. Apakah teknologi ini masih relevan dengan perkembangan zaman. Mengingat sekarang sudah ada teknologi transfer data yang mencapai 70 Mbps lewat WiMax. Dan diluar negeri sedang dipersiapkan layanan seluler generasi ke-4 (4G). Ah kita memang selalu tertinggal.
tidak ada istilah ketinggalan maju terus pantang mundur, oleh karena itu berbagilah
pengetahuan disinidengan saya atau shere ke email :
alief1988@gmail.com